Proses Bisnis Syariah and Konvensional
A business process is
a collection of linked tasks roomates
find their end
in the delivery of
a service or
product to a
client. The process
must involve Clearly
defined inputs and
a single output.
Business processes that are currently
being developed in some countries
are Syariah and conventional business processes.
Both have differences in the economic system adopted. Business processes embracing syariah-based Islamic economic
system while the conventional
business processes embraced the capitalist system. The difference in the system affect the procedures executed
on the respective business processes,
both have different goals.
Proses
bisnis syariah adalah prosedur kerja dari sebuah sistem ekonomi yang berbasis
dan berdasarkan islam. Bisnis syariah didalam aktivitas bisnisnya menganut pada
sistem keislaman yang dilakukan sesuai syariat islam. proses bisnis syariah
memiliki tujuan Falah (kedamaian dan kesejahteraan dunia-akhirat) memiliki arti
bahwa bisnis bukan hanya untuk kesejahteraan dan kedamaian didunia
melainkan juga untuk bekal diakhirat. Bisnis
ini tidak mementingkan keuntungan untuk diri sendiri saja tetapi untuk
bersama-sama dengan semua orang yang terlibat. Bisnis syariah memiliki
pilar-pilar ekonomi islam yang dilaksanakan yaitu konsep sidiq, fathonah,
amanah, dan tabligh, larangan riba, investasi dan transaksi halal, dan larangan
untuk berjudi.
Proses
bisnis konvensional adalah prosedur kerja yang dilakukan berdasarkan sistem
kapitalis dimana bisnis dilakukan untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya dan
dilakukan untuk kepentingan pribadi. Proses ini mengutamakan keefisienan dan
keefektifan untuk mendapat keuntungan besar, sedangkan didalam bisnis syariah
telah diatur tentang pengambilan keuntungan pada bisnis yang sedang beroperasi
agar tidak terjadi riba.
Proses
bisnis syariah memiliki tujuan Falah (kedamaian dan kesejahteraan
dunia-akhirat) memiliki arti bahwa bisnis bukan hanya untuk kesejahteraan dan
kedamaian didunia melainkan juga untuk
bekal diakhirat, sedangkan proses bisnis konvensional memiliki tujuan meraih
keuntungan sebesar-besarnya dan dilakukan untuk kepentingan pribadi. Contoh
perbedaan tujuan ini dapat dilihat pada perbedaan bentuk asuransi yang dianut
antara proses bisnis syariah dan konvensional. Jika pada asuransi syariah,
seseorang mengikuti asuransi kecelakaan kemudian dalam hidupnya sampai dia
meninggal tidak terjadi kecelakaan maka uang yang disetor tidak dikembalikan
melainkan untuk anggota asurasi lainnya yang membutuhkan dan pihak asuransi
hanya menerima uang sebagai pembayaran jasa atas pekerjaannya. Tetapi pada
asuransi konvensional, jika seseorang mengikuti asuransi kecelakaan kemudian
dalam hidupnya sampai dia meninggal tidak terjadi kecelakaan maka uang yang
disetor tidak dikembalikan melainkan untuk pihak asuransi sebagai keuntungan.
Keduanya tentu dapat disimpulkan sangatlah berbeda, jika dilihat dalam tujuan
yang dianut masing-masing.
Perbedaan
dalam pengambilan keuntungan pada proses bisnis produksi barang. Jika
perusahaan syariah dalam menjual produk yang telah dihasilkan diatur keuntungan
yang didapat adalah sekian persen maka dalam
perusahaan konvensional dalam pengambilan keuntungan adalah
sebanyak-banyaknya. Aturan pengambilan keuntungan pada proses bisnis syariah agar tidak terjadi riba didalamnya, tetapi
proses bisnis konvensional tidak menjamin bahwa didalamnya tidak terjadi riba.
Perbedaan
lainnya adalah terdapat pada pilar-pilar yang harus dijalankan pada proses
bisnis syariah yang sedang berlangsung, tetapi didalam proses bisnis konvensional
tidak memiliki pilar-pilar yang harus dilaksanakan sehingga konsep bisnis yang
ada tidak berpacu pada pilar seperti proses bisnis syariah.
Ketahanan
ekonomi syariah terhadap krisis menjadi nilai plus dari industri syariah. Pengamat
keuangan syariah Syakir Sula usai seminar info bank syariah di Hotel Borobudur
Jakarta, Kamis (4/10/2012) berpendapat pemerintah seharusnya melihat fenomena
ini secara terbuka bahwa syariah adalah produk yang aman dan menjanjikan dalam membangun
ekonomi. "Anda tahu, tahun 1997-1998 ada krisis, pemerintah gelontorkan Rp
650 triliun untuk membangun kembali bank-bank konvensional dari kebangkrutan,
tetapi tidak dengan Bank Muamalat yang bertahan di tengah krisis tanpa bantuan
gelontoran dana," tuturnya.
Fakta
diatas membuktikan bahwa terdapat banyak kelebihan didalam proses bisnis
syariah, salah satu bentuknya adalah dalam krisis ekonomi yang pernah mendera
indonesia. Hanya bank syariahlah yang mampu bertahan ditengah krisis, sedangkan
bank konvensional bergantung pada suntikan dana yang didapat dari pemerintah
agar dapat membangun kembali bank konvensional dari kebangkrutan. Dalam
penerapannya tiga dekade yang lalu, Bank syariah sebagai representasi keuangan
islam, belum dikenal oleh masyarakat. Kini sistem keuangan syariah telah
beroperasi di lebih dari 55 negara yang pasarnya tengah bangkit dan berkembang
(Lewis dan Algaoud, 2007). Meskipun pemikiran ekonomi syariah baru muncul
beberapa tahun terakhir ini di negara-negara muslim, namun ide-ide tentang
ekonomi islam dapat dirunut dalam alquran yang diturunkan abad ke-7.
Perbedaan
pada ekonomi bisnis syariah dan konvensional yaitu bila pada ekonomi konvensional
dikenal sebagai bunga tetapi didalam ekonomi syariah diterapkan sistem bagi
hasil. Perbedaan bisnis ini juga dapat dilihat dari perjanjian kredit yang
dilakukan. Pada ekonomi konvensional, perjanjian kredit dikenal perjanjian baku
yang artinya perjanjian dibuat sepihak dan dipersiapkan oleh pihak yang
membuatnya. Sedangkan pada ekonomi syariah, perjanjian tidak menggunakan
perjanjian baku tetapi perjanjian dibuat oleh kedua pihak yang terlibat bisnis.
Sources:
- -
Appian.
“Definition of a Business Process”. http://www.appian.com/bpm-resources/bpm-articles/definition-of-a-business-process.jsp waktu download : 22 September 2012.
perbaiki dulu tugas pertama. tulisan ini terlalu singkat. tidak ada referensi yg digunakan. judul dan abstrak dlm bhs inggris jg tdk ada.
BalasHapus